Lynx merasakan sejak dia berada di dalam batu meteor, tubuhnya seolah terbakar dan dicabik-cabik. Rasa sakit yang tak tertahankan selalu muncul tanpa henti, namun dengan tekad yang membara, dia berusaha untuk bertahan.

Seiring waktu, sensasi panas dan nyeri itu perlahan berubah menjadi sejuk dan menyegarkan. Ia merasakan adanya sesuatu yang berbeda, sesuatu yang begitu besar dan tak terbatas, seolah dirinya telah menjadi satu dengan alam itu sendiri.

Energi itu tidak lagi terasa mengalir melalui pusat energi yang sebelumnya dia anggap sebagai akar spiritual, tidak juga dari dantian atau jalur energi seperti yang diketahuinya dari leluhur Yaksa, melainkan mengalir dan menyelimuti dari setiap sel dalam tubuhnya, menyadarkannya bahwa tubuhnya sendiri adalah sumber dari kekuatan itu. “Apa ini? Seperti... aku adalah bagian dari alam ini,” pikirnya, merasakan kekuatan itu semakin mendalam.

Tubuhnya lalu secara otomatis menyerap habis semua energi yang ada di batu meteor, dan tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang memasuki pusat kekuatannya, di akar spiritual, dekat dengan dantian. Benda itu menyebabkan dantian dan pusat kekuatannya seolah menyatu. Kini dia merasakan energinya berasal dari tubuhnya sendiri, dari akar spiritual dan dari dantian yang saling bekerjasama memberikannya kekuatan super, overpower.

Ketika dia keluar dari batu meteor yang kini tak lagi memiliki energi, Lynx kembali menikmati sensasi luar biasa yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Tubuhnya terasa ringan, dengan energi meluap-luap. Dia merasakan seolah dunia ini berada di dalam tubuhnya. Namun anehnya, luapan energi yang terlalu besar justru membuatnya menjadi seperti manusia biasa. Lynx dapat merasakan dengan kepekaannya, bahwa orang lain yang melihat dirinya, tidak akan dapat merasakan sedikitpun energi di tubuhnya. "Mungkinkah karena energi yang kumiliki ini berbeda, seperti halnya batu meteor yang tidak bisa mereka rasakan, begitu juga kekuatanku? Ataukah karena kekuatanku terlalu besar sehingga dunia ini tidak bisa mengukurnya?" batin Lynx.

Suara marah leluhur Monrest dan tindakan yang dilakukannya dihadapi dengan tenang. Meskipun dia tidak tahu kebenarannya, satu hal pasti, tidak ada satupun yang dapat menyakitinya kini.

Dengan kepekaannya yang tajam, meski matanya terpejam, Lynx tetap bisa merasakan apa yang terjadi di sekitarnya. Ketika Ruvan mengancam akan membunuh Leena, dia dengan tenang membuka matanya. Seolah ada yang memberitahunya, ia memfokuskan penglihatannya dan menyalurkan energi ke matanya. Dari kedua matanya, keluar sinar laser yang tak kasatmata, menembus langsung dahi Ruvan.

Lynx kemudian memejamkan matanya kembali, menikmati kembali sensasi yang mengalir dalam dirinya. Saat memeriksa kembali akar spiritualnya, Lynx merasakan sesuatu yang tak biasa. Ada sebuah benda bulat yang berdenyut pelan, seperti jantung kedua di dalam tubuhnya. “Apa ini? Aku tidak pernah merasakannya sebelumnya...Apakah ini benda yang masuk tadi?” pikirnya. Ia mencoba memusatkan perhatiannya pada benda itu, tetapi tidak ada jawaban yang jelas. Namun, dia tahu bahwa benda itu adalah salah satu kunci dari kekuatan yang kini dimilikinya.

Melihat kemampuan Lynx yang ternyata masih memiliki kekuatan, dan terbunuhnya Ruvan didepan matanya tanpa mengetahui apa yang membunuhnya membuat tubuh leluhur Monrest bergetar.

Di hadapan Lynx, Leluhur Monrest yang semakin dikuasai amarah melayang kembali ke udara. "Tidak peduli seberapa aneh kekuatanmu, aku tidak akan kalah dari seorang bocah sepertimu!" serunya dengan suara menggema. Ia mengayunkan pedangnya lagi dengan kekuatan penuh, energinya mengalir hingga menciptakan getaran di udara.

Namun, seperti sebelumnya, setiap serangan pedangnya hanya menghasilkan percikan tanpa melukai tubuh Lynx. Bahkan tanah di sekitar Lynx tetap utuh, seolah dilindungi oleh sesuatu yang tak terlihat.

“APA KAU INI?!” teriak Leluhur Monrest dengan suara penuh keputusasaan.

Leena yang masih terikat di tiang, tidak lagi menjerit atau menangis. Sebaliknya, senyuman perlahan muncul di wajahnya. Matanya penuh dengan air mata kebahagiaan saat melihat Lynx berdiri tegak tanpa terluka sedikit pun. "Lynx... aku tahu kau akan melindungi kami," pikirnya.

Di sisi lain, Damon dan para pasukan Monrest yang menyaksikan ketidakberdayaan Leluhur mereka mulai diliputi rasa takut. "Ini... ini tidak mungkin. Leluhur tidak bisa melukainya!" bisik Damon dengan nada putus asa.

"Kita harus pergi!" salah satu prajurit berteriak panik, melepaskan senjatanya dan mulai melarikan diri. Gelombang ketakutan menyebar di antara para pasukan, membuat mereka berlarian ke segala arah.

Damon beserta para tetua dan pimpinan wilayah lainnya merasa putus asa melihat anak buahnya melarikan diri, leluhur mereka yang tidak bisa mengatasi Lynx, dan ingatan mengenai kehancuran yang diceritakan pimpinan spiritual mereka, sehingga akhirnya mereka memilih untuk ikut kabur melarikan diri dan mencari kesempatan lain untuk menghancurkan mereka lagi.

Lynx membuka matanya, menatap para pasukan yang melarikan diri dengan tenang. Ia tidak berniat mengejar mereka, hanya memandang tanpa emosi."Dia datang." gumamnya sambil tersenyum.

Damon yang berlari di antara pasukan itu menoleh ke belakang sesekali, memastikan Lynx tidak mengejarnya. "Dia tidak mengejar... dia membiarkan kita pergi," gumamnya, rasa takut masih membayangi langkahnya.

"Dasar bodoh, pengecut! kalian kabur begitu saja." teriak leluhur Monrest dengan marah.

Namun, suasana berubah drastis ketika sebuah bayangan besar menutupi area perkampungan Monrest. Dari langit, muncul seekor makhluk raksasa menyerupai naga. Tubuhnya begitu besar, dengan kepala berdiameter lebih dari lima meter yang dipenuhi sisik hitam mengkilap. Matanya bersinar merah, dan taring-taring runcingnya tampak seperti pedang yang bisa menghancurkan apa saja. Dengan sayapnya yang lebar membentang membuat siapapun yang melihatnya akan merasakan ketakutan.

Leluhur Monrest yang masih melayang di udara membeku, wajahnya pucat pasi. "Tidak... ini tidak mungkin. Naga penghancur itu..." gumamnya dengan suara gemetar.

Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, naga itu membuka rahangnya yang besar dan menelan Leluhur Monrest dalam satu gigitan. Tubuh leluhur Monrest atau nama aslinya Mao Ren, yang sombong kini lenyap tanpa jejak.

"Lihat! mahluk itu datang." teriakan panik para penduduk suku Surya terdengar. Para anak-anak menangis ketakutan, bahkan beberapa orang tua mengalami serangan jantung dan terjatuh.

"Leluhur Monrest ditelannya." teriak salah satu penduduk lainnya.

Seluruh pasukan Monrest yang melarikan diri terdiam, tidak berani bergerak seolah takut naga itu akan memangsa mereka.

"Leluhur binasa." batin para pasukan dengan ketakutan. Sementara Damon merasakan takut yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Mahluk itu ratusan kali lebih besar daripada mahluk mutasi yang pernah di taklukannya.

Naga itu mengangkat kepalanya, mengeluarkan raungan yang mengguncang pulau, lalu mulai menyemburkan api besar ke arah tanah, menghancurkan apa saja yang ada di jalannya. Para pasukan Monrest yang tersisa tidak sempat melarikan diri. Api itu melahap mereka semua, membuat tempat itu menjadi lautan api dan kehancuran.

"Tidak." teriak Damon, dengan putus asa saat melihat api semakin mendekat kearahnya tanpa dia bisa melarikan diri dan membakar habis dirinya.

Akhirnya nasib Damon beserta pasukannya binasa, habis oleh serangan api dari mahluk naga tersebut.

Di cekungan, penduduk Surya menyaksikan pemandangan itu dengan ketakutan. "Naga... itu naga yang dulu Leena ceritakan!" seru salah satu penduduk.

"Kita... kita semua akan mati!" jerit yang lain, pelukan di antara keluarga semakin erat, tangisan anak-anak terdengar di udara.

Namun, sebelum api naga mencapai cekungan, sebuah perisai besar muncul, melingkupi seluruh area tempat penduduk Surya berada. Cahaya perisai itu hangat, melindungi mereka dari panas api yang mengamuk di luar. Penduduk yang tadinya panik mulai menyadari bahwa mereka aman.

"Lynx..." Leena berbisik, menyadari bahwa perisai itu berasal dari kekuatan Lynx.

"Kita selamat. Kepala suku menyelamatkan kita lagi." teriak kebahagiaan terdengar dari para penduduk. Lala dan Rira saling berpelukan dengan air mata bahagia. Mereka tidak menduga akan berhasil selamat dari kematian yang sudah ada didepan mata.

"Lihat naga itu ingin menyerang lagi," teriak salah satu penduduk yang mulai ketakutan lagi diikuti seluruh penduduk lainnya.

Lynx berdiri memandangi kehancuran di sekelilingnya. Tanah retak, langit dipenuhi asap. Dengan kemampuannya merasakan seluruh pulau, Lynx dapat merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. "Pulau ini... sudah tidak akan bertahan lama. Kami harus segera pergi," pikirnya, menyadari bahwa tidak ada waktu yang tersisa.

